Barokallahu fiik: Menyandingkan Kebahagian dengan Keberkahan

Barokallahu fiik: Menyandingkan Kebahagian dengan Keberkahan

Ketika mencapai suatu keberhasilan, sering kali kita mendapat ucapan, “Barokallah fiik!“, entah saat acara pernikahan, ulang tahun, lulus kuliah bahkan ketika seseorang meminta kita untuk mendoakannya, kita mengucapkan “Barokallah fiik!“ yang artinya semoga Allah memberkahimu.

Lalu apa arti kalimat “Barokallah fiik“ ini?

Barokah atau berkah adalah status yang diinginkan oleh setiap hamba yang beriman, karena didalamnya terdapat limpahan kebaikan dalam hidup. Tetapi pernahkah kita bertanya, keberkahan seperti apa yang sebenarnya kita inginkan. Apa arti dari ‘diberkahi Allah‘?

Benarkah kepemilikan materi, harta, tahta dan segala barang dunia berarti kita telah mendapat keberkahan dari Allah SWT? Benarkah dengan memiliki sederet gelar akademik berarti usaha dan kerja keras kita menuntut ilmu berbuah keberkahan?

Dalam Surah Al-Qasas ayat 60 dituliskan bahwa:

“Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasaannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti?“

Menjadi sehat, kaya, dan populer belum tentu menjanjikan keberkahan. Berilmu namun kondisinya tampak seperti orang awam yang tidak ada pengaruh ilmu padanya, baik dalam hal ibadah, akhak, dan muamalah adalah kesia-siaan yang paling besar.

Kehilangan segala-galanya pun bisa membawa keberkahan ketika segala kemudahan yang didapatkan di dalam hidup itu ternyata mengalihkan kita dari mengingat Allah SWT. Kekhawatiran akan kehilangan atau kehabisan membuat kita serakah dalam mengejar pernak-pernak dunia.

Demikian juga kesempitan hidup bisa saja menjadi percikan yang menyadarkan kita untuk mengenal Allah, memperbaiki hubungan dengan-Nya dan mengajarkan untuk menggantungkan segala harap hanya kepada Allah SWT.

Firman Allah dalam surah Al- Fajr ayat 15-17:

“Maka ada pun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku”. Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim”

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa kemudahan dan kesulitan, baik dan buruk, miskin dan kaya adalah ujian; ujian keberkahan dimana kita dituntut untuk menyambutnya dengan ketaatan. Barokah bermakna “albarokatu tuziidukum fi thoah ilallah” – barokah itu menambah taatmu kepada Allah.

Hidup yang barokah bukan hanya hidup yang sehat, tapi kadang sakit justru barokah. Sebagaimana Nabi Ayyub as. Sakitnya menambah taatnya kepada Allah.

Barokah itu tak selalu umur panjang, ada yang berumur pendek. Karena kedahsyatan taatnya, ia mati syahid dalam Perang Uhud, seperti Musab ibnu Umair r.a.

Tanah yang barokah bukan tanah yang subur dengan sumber daya alam melimpah. Kota Mekkah dengan tanah yang kering dan tandus, memiliki keistimewaan tak tertandingi di mata Allah.

Makanan yang barokah bukan yang mengandung komposisi gizi paling lengkap, tetapi makanan itu mampu menjadikan pemakannya menjadi taat setelah makan.

Pasangan yang barokah bukan yang hanya bisa memenuhi segala kebutuhan, tetapi yang mampu menjadi kawan dalam ketaatan.

Penghasilan yang barokah juga bukan jumlah nominal yang besar dan terus bertambah, tetapi sejauh mana ia bisa menjadi jalan rezeki untuk orang lain.

Anak yang barokah bukan saat mereka kecil, mereka lucu dan imut dan setelah dewasa mereka bergelar dan memiliki jabatan hebat, tetapi anak yang barokah adalah anak sholeh-ah yang mampu mendoakan ibu bapaknya.

Ilmu yang barokah bukan yang memiliki barisan gelar dan riwayat yang panjang, tetapi ilmu yang barokah adalah ilmu yang mampu menjadikan pemiliknya meneteskan keringat dalam beramal dan berjuang untuk agama Allah.

Jika seorang kawan mendoakan kita dengan ucapan “Barokallah fiik!“ maka doakanlah agar ia mendapat keberkahan yang serupa. Karena sesungguhnya bentuk perkataan yang baik adalah mendoakan saudara sesama Musllim.

Barokallahu fikum. Semoga Allah SWT selalu memberkahi kegiatan kita. Aamiin yaa Robb!

 

Referensi:
1. Bentuk Perkataan yang Baik Kepada Saudara Kita

2. Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fajr

Ditulis oleh Nurbiah Permatasari Nurdin
Foto: Kota Chefchaouen, Maroko

SIMILAR ARTICLES