Bibir Kita Terlalu Kering dari Berucap Syukur

Bibir Kita Terlalu Kering dari Berucap Syukur

Mungkin kita manusia tidak sadar bahwa sebagian waktu kita, kita habiskan lebih banyak untuk mengeluh. Mengeluh lapar, mengeluh susah menghadapi ujian, mengeluh kekurangan dalam hal materi dan sebagainya. Meski otak kita juga sering berpikir, eluhan-eluhan itu juga tak menuntaskan masalah-masalah. Dan ya manusia terlalu sibuk dengan hal yang berbau duniawi, mereka (atau lebih tepatnya kami?) lebih suka mengejar prestasi, pujian, atau sekedar pengakuan dari manusia yang lain.

Lupa. Kita lupa bahwa kita tidak hanya berhubungan dengan manusia saja dalam sehari-harinya. Kita lupa pada siklus yang masih setia menemani hidup kita. Siklus nafas misalnya. Siklus yang sering kita abaikan, namun jika tanpa dia kita bisa berpisah dengan jasad kita. Siklus sederhana dimana hidung menghirup oksigen, kemudian tak lebih dari satu detik, ia mengeluarkan gas bernamakan karbon dioksida. 0,89 detik mungkin? Atau yah kurang lebih satu detik yang membawa kita pada detik-detik selanjutnya, pada nafas-nafas selanjutnya. Benar-benar hal yang kecil, melekat pada aktivitas sehari-hari kita, namun sering kita lupakan untuk mensyukurinya.

Lagi. Siklus belajar. Banyak dari kita yang kini masih dalam tahap “metamorfosa”, sebuah tahap perubahan, berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi agak sedikit tidak bodoh, dari belum paham menjadi paham. Sebuah siklus yang juga tak manusia sadari bahwa di dalamnya ada sentuhan mukjizat dari Illahi Rabbi, dimana manusia menjadi aktif dan berusaha. Ada sebagian dari kita yang mengeluh dengan kesulitan dalam siklus ini, ada yang sudah berputus asa, ada pula yang masih “keukeuh” dan menjauhi zona amannya. Tidak banyak yang menyadari jika disini kita bisa mengambil sebuah pelajaran, bahwa belajar adalah sebuah siklus yang manis, yang menjadikan sebatang padi makin menunduk dan pedang semakin tajam. Benar, kita terlalu sibuk mencari jawaban dari berbagai pertanyaan, namun ketika kita mendapatkan jawaban-jawaban itu, kita lupa kepada sang pemberi akal.

Tidak perlu hal rumit, mari kita mulai dari hal kecil, kita syukuri hal-hal kecil itu, maka Ia sang pemberi nikmat juga tak segan-segan untuk melipat gandakannya.

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai karunia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (QS.27:73)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

 

 

Ila S. Lathifah

Universität des Saarlandes

SIMILAR ARTICLES