Cara Memilih Makanan Halal di Jerman?

Cara Memilih Makanan Halal di Jerman?

Di sini, saya ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana cara memilih makanan halal di Jerman. Hal ini saya rasakan memang sering menjadi masalah ketika mahasiswa muslim kuliah di negara Eropa, yang notabene jarang dan hamper tidak ada yang menjual makanan Halal.

Dalam memilih makanan, seseorang setidaknya menggunakan 3 buah alasan:

  1. kualitas rasanya; apakah masakan ini akan memanjakan lidah
  2. kualitas higienitas dan keamanan dari makanan, dan tentu saja
  3. jaminan kehalalan dari makanan tersebut.

Di Indonesia, orang pada umumnya akan mudah menemukan makanan yang memenuhi 3 kriteria itu. Akan lebih mudah lagi menemukan makanan halal dengan kualitas rasa yang ekstra, tetapi tingkat higienisnya dapat diragukan. Salah satu bukti dari hal ini: beberapa orang Indonesia, yang baru beberapa hari menginjakkan tanah air setibanya dari Jerman, mengalami sakit perut (entah diare atau susah BAB) karena tidak mampu menahan kerinduannya untuk kembali mencicipi cita rasa masakan lokal. Perut butuh waktu untuk membiasakan diri lagi. Penulis-pun menjadi saksi hidup dari fenomena ini.

Sisi ini menunjukkan bahwa secara umum, tingkat higienisitas makanan di Jerman relatif lebih tinggi. Jika dilihat dari 3 kriteria tersebut di atas, makanan-makanan yang kita temukan di Jerman (penulis belum terlalu banyak mencicipinya) adalah makanan yang higienis, enak (walau penulis tetap lebih suka masakan Indonesia), tetapi tidak selalu terjamin kehalalannya. Setidaknya, jika kita bandingkan dengan kemudahan mencari makanan atau menikmati wisata kuliner di Indonesia; makanan halal bisa kita temukan di mana-mana. Penulis mencoba berbagi tentang bagaimana menghadapi tantangan perihal kehalalan makanan di Jerman, dan apa solusi yang bisa ditemukan.

Sebelum berbicara lebih jauh, kenapa sih seseorang butuh mencari makanan yang halal? Bagi kamu yang muslim, mungkin mengatakan bahwa makanan halal adalah upaya menjauhkan diri dari dosa, pemenuhan salah satu syarat terpenuhinya do’a, dan jaminan keberkahan. Ada beberapa orang yang berargurmen: “Kan, kalau tidak tahu nggak dosa”. Kalimat ini beberapa kali terutarakan, terdengar indah, tetapi –maaf- terkesan menggampangkan. Berapa lama kita mau tidak tahu terus? Sedangkan informasi tersaji di mana-mana. Kalaupun tidak dosa, Ustadz Salim A Fillah dalam bukunya‘ Lapis-Lapis Keberkahan‘, mengingatkan bahwa meskipun boleh jadi kita tidak dosa karena tidak sengaja memakan makanan yang haram, maka pengaruhnya akan tetap ada. Beberapa di antara: boleh jadi hidup kita jadi tidak berkah, doa-doa kita tidak terkabul, belajar jadi susah masuk, dan masih banyak lagi.

Secara umum ada 3 peluang makanan dikonsiderasi menjadi makanan haram. Yang pertama, karena dzatnya. Yang kedua, karena cara memotongnya. Dan yang ketiga, karena cara pengolahnnya.

Di jerman, tentu saja kita akan mudah menemukan makanan dan minuman yang dzatnya jelas haram dan dijual di tempat-tempat umum: schwein (daging babi), schinken (ham), bier, wein, dan masih banyak lagi. Upaya untuk menghindari makanan ini, bagi muslim yang patuh, bukanlah perkara sulit. Semua informasi tertulis di ‘nama makanan’ dan bahannya.

Peluang haram yang kedua, cara memotong hewan sembelihan, lebih sulit diketahui jaminan kehalalannya. Ada setidaknya 2 diskusi yang mengemukakan:

Satu, sebagaimana yang kita ketahui, muslim diperbolehkan memakan sesembelihan dari ahli kitab (baca: umat Kristiani dan Yahudi). Masalahnya adalah, walau secara statistik jumlah mayoritas penduduk Jerman adalah umat Kristiani, tetapi populasi Jerman menunjukkan jumlah penduduk Atheis yang tinggi. Tentunya ini jadi isu untuk umat muslim: adalah hal yang sangat sulit untuk mengetahui apa agama dari si penjagal hewan-hewan yang tersaji di pasaran.

Kedua, alasan yang berkait dengan cara memotong hewan. Secara jujur, penulis tidak mengetahui aturan resmi di Jerman mengenai bagaimana cara penjagal di rumah potong Jerman menyembelih hewan-hewannya. Apakah dengan menyembelih di urat nadi leher, ataukah dengan disetrum; penulis tidak tahu. Yang menarik, penulis menemukan artikel di spiegel[dot]de, media terkemuka di jerman, bahwa sekelompok peneliti di kota Kassel, bekerja sama dengan beberapa peternakan di utara Jerman, telah mengkaji metode alternatif yang bisa digunakan untuk menggantikan fungsi rumah potong.Para peneliti tersebut menggunakan metode di mana hewan ternak di tembak di titik tertentu di bagian kepala depan oleh seorang penembak terlatih, dan mereka mengklaim bahwa metode ini menghasilkan ‘a stress-free death’. Penulis tidak mengetahui bagaimana kelanjutan penelitian ini. Tetapi secara umum, tidak ada jaminan bahwa daging yang dijual di supermarket umum disembelih sesuai ajaran Islam.

Dan yang ketiga: proses pengolahan makanannya, baik dari pengolahan dari bahan mentah menjadi bahan siap masak, maupun proses memasaknya. Dalam kasus pengolahan makanan: produsen makanan menggunakan lab atau rennet yang dapat berasal dari tumbuhan atau mikrobielle, dan dapat juga berasal dari hewan. Hal ini tentu saja memunculkan pertanyaan berkaitan tentang status kehalalan dari hewan yang digunakan. Di sisi lain, proses memasak juga dapat menimbulkan pertanyaan: apakah, jika kita memesan menu yang kita anggap halal, menu yang dimasak akan 100% tidak tercampur dengan makanan yang haram?

Tentunya di balik segala tantangan di atas, muslim di Jerman sudah menemukan berbagai cara untuk tetap bisa menikmati cita rasa makanan, tanpa harus khawatir tentang kehalalannya. Cara-cara tersebut akan membantu dalam memilih, baik memilih menu di restauran, memilih makanan olahan di supermarket umum, dan juga memilih daging olahan. Berikut beberapa cara yang bisa digunakan:

– Mencari daftar makanan halal di internet 
Beberapa situs yang penulis temukan, di antaranya:

– Bergabung dengan grup atau fan page di facebook di mana muslim jerman saling berbagi informasi tentang kehalalan produk.
Beberapa grup / fan page tersebut adalah:

– Berbelanja daging ayam, sapi, kambing dan makanan olahan hewan lainnya di supermarket Turki

bolu.jpg

Daftar toko turki, di antaranya dapat dilihat di:

– Mengunduh aplikasi ‘Halal Check‘ di App Store dan Playstor

imagen-halal-check-0big.jpg

Aplikasi ini bekerja melalui proses pemindaian terhadap barcode yang tertera pada bungkus makanan. Proses pemindaian memberikan hasil berupa klasifikasi: unbedenklich (tidak berisiko), bedenklich (berisiko), in analyse (masih dalam proses analisis), dan tidak ada data.

Download App Android
Download App iPhone

– Memeriksa bahan-bahan yang tertera di belakang bungkus makanan
Cara ini tidak memberikan jaminan yang lebih dibanding cara-cara sebelumnya, tetapi tetap dapat membantu dalam pertimbangan memilih. Beberapa bahan yang perlu menjadi perhatian: alkohol, emulgator dari non-tumbuhan, gelatin, dan lain-lain.

– Memilih restoran yang menyajikan makanan halal 
Daftar restoran halal, di antaranya dapat dilihat di: http://www.zabihah.com/reg/ufbdwx42uj

– Menghindari memakan makanan di restoran yang menyajikan alkohol dan babi
Jika terpaksa, maka pilihlah makanan untuk vegan dan vegetarian, dan bisa minta pelayannya untuk memastikan bahwa proses memasaknya tidak tercampur dengan zat haram tersebut.

– Mengikuti acara-acara pengajian, baik pengajian WNI maupun pengajian di masjid
Sebagai tambahan informasi, selama bulan Ramadhan, banyak masjid di Jerman yang menyediakan buka puasa gratis bagi jamaah masjid. Faktanya, banyak warga Indonesia yang tidak melewatkan kesempatan ini untuk mendapatkan makanan porsi besar, enak, dan tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.

pengajian.PNG

Pada akhirnya, tidak ada jaminan bahwa cara-cara yang tersaji di atas akan membuat kita aman 100% dari dzat haram. Semuanya berpulang kembali pada pembaca sekalian. Insya Allah, jika kita punya niat yang kuat untuk memastikan kehalalan makanan, Allah akan berikan jalan bagi kita untuk menemukannya.

Ditulis oleh: Romadhani Ardi pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota Duisburg, Jerman. Pencinta makanan, bukan aktivis wisata kuliner. Muslim yang masih terus belajar, bukan ahli syariah dan fiqih Islam. 

Sumber: http://www.berkuliah.com/2014/10/bagaimana-cara-memilih-makanan-halal-di.html

Baca juga : http://forkom-jerman.org/tenang-ada-toko-halal-di-eropa/

SIMILAR ARTICLES