Jangan Menyerah Kawan

Jangan Menyerah Kawan

Jangan Menyerah Kawan“ karena kita tidak boleh gampang menyerah. Kita harus hapus kata tidak bisa, dari kamus kehidupan kita. Pertanyaannya adalah, dalam konteks apa kita tidak boleh menyerah?

Banyak sekali masalah kecil yang kita kadang tidak mampu untuk menyelesaikannya sampai kita putus asa. Jika kita sedang mendapatkan masalah maupun kecil atau besar, kadang kita juga berpikir, kenapa kita tidak bernasib sama seperti orang lainnya. Jika kita sudah sampai berpikir seperti itu, itu adalah tanda-tanda putus asa.

Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna dan jauh dari masalah. Semua orang pasti mempunyai masalah baik itu kecil ataupun besar, karena Allah swt. sudah menetapkan takdir kepada kita dan kita pun sebagai seorang muslim semestinya percaya kepada Qada dan Qadar yang merupakan Rukun Iman ke-6. Semua sudah tertulis di Lauh Mahfuzh, jadi apapun yang kita coba untuk menghindari masalah-masalah kita, tentunya takdir tidak bisa di hindari, yang kita bisa lakukan adalah bersabar dalam menjalani kehidupan kita ini.

Dalam suatu Hadits, pada suatu Hari Rasulullah SAW membuat gambar persegi dan garis-garis lurus:

“Nabi SAW membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di sampingnya: (persegi yang digambar Nabi). Dan beliau bersabda : “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini adalah penghalang-penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa ketuarentaan.”(HR. Bukhari).[1]

Lewat visualisasi gambar ini, Nabi SAW menjelaskan di hadapan para sahabatnya, bagaimana manusia dengan cita-cita dan keinginan-keinginannya yang luas dan banyak, bisa terhalang dengan kedatangan ajal, penyakit-penyakit, atau usia tua. Dengan tujuan memberi nasehat pada mereka untuk tidak (sekedar melamun) berangan-angan panjang saja (tanpa realisasi), dan mengajarkan pada mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Banyak sekali godaan dan percobaan berbagai macam dalam hidup kita, tentunya di Jerman. Dari mulai memilih makanan sampai kepada sholat 5 waktu. Ketika kita sedang berkuliah, sedang kerja, atau bahkan ketika sedang dalam perjalanan, sebuah pertanyaan sering datang ke benak kita: „Bisa Sholat di mana ya?“. Di Jerman tidak ada Musholla seperti di Indonesia, jadi kita tidak mudah untuk sholat di luar, akan tetapi kita sebagai seorang muslim di wilayah minoritas harus selalu berusaha untuk menjalankan kewajiban kita.

Kehidupan kita ini Insya Allah tidaklah sia–sia, tujuan kita adalah mendapatkan hasanah di dunia pun di akhirat. Sehingga sesulit apapun kondisi kita saat ini dan dimana saja kita berada, tentu saja akan lebih gampang jika kita selalu berpikir positif terhadap masa depan kita.

Berpikir positif bukanlah hal yang sulit, karena itulah yang memberikan kita motivasi untuk dapat menjalani studi di Jerman, kerja di Jerman, tentu tidak segampang di Indonesia. Studi juga merupakan salah satu Ibadah, karena dalam Islam di jelaskan bahwa kita harus menuntut Ilmu. Kita menuntut Ilmu tentu dengan penuh kesabaran dan karena Allah SWT. Dan merantau ke luar negeri, jauh dari orang tua dan saudara-saudara tentu membuat kita terkadang bepikir bahwa hidup kita ini sangat berat dibandingkan kehidupan orang lain, apalagi jauh dari Sang Ibu yang sedari kita kecil tidak pernah lelah merawat kita. Tidak ada manusia yang lebih mulia setelah nabi Muhammad SAW kecuali Ibu kita yang sudah mengajarkan kita dan memberi kita semangat setiap waktu. Ibu selalu ada di samping kita ketika kita sedang sakit, sedang sedih, ketika kita putus asa Ibu kita lah yang memberi kita semangat, maka tidak heran lah ketika Nabi Muhammad SAW bersabda: „Surga ada di telapak kaki Ibu“. Apakah kita sudah membalas budi terhadap apa yang Ibu kita sudah berikan sejak kita kecil sampai kita dewasa? Salah satu jalan untuk membalas budi orang tua, ketika kita jauh dari mereka adalah memperlihatkan hasil studi kita di luar negeri ini dan „Jangan menyerah“ sebab tidak menyerah adalah salah satu kunci kesuksesan kita di Dunia dan Akhirat, jangan lupakan Tilawah, Muroja’ah dan mengkhatamkan Hafalan karena dalam hadits diceritakan bagaimana Kedua Orang Tua kita bisa mendapatkan Mahkota Surga:

Rasulullah  SAW  bersabda:

“Barangsiapa  selalu  membaca Al-Qur’an dan  mengamalkan  isinya niscaya Allah SWT akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya besok di hari kiamat yang mana cahaya mahkota tersebut lebih indah dari cahaya matahari yang menyinari rumah-rumah di dunia dan dipakaikan kedua orang tuanya perhiasan yang tidak didapatinya di dunia, lalu keduanya bertanya:  „Dengan  amal  apa  hingga kita  diberikan  pakaian  ini?“ Dikatakan:  „Karena  anakmu hafal Al-Qur’an”. Maka apakah gerangan balasan pahala yang akan dianugerahkan kepada orang yang membaca dan mengamalkan Al-Qur’an itu sendiri? ”. (Riwayat Abu Dawud)[2]

Kawan, masih ingat Imam Syafi‘I ? Beliau menjadi Hafidz Qur’an pada usia dibawah 10 tahun. Di Indonesia Alhamdulillah sudah banyak para Hafidz dan Hafidzah di bawah usia 10 tahun, Insya Allah kedepan semakin banyak para Hafidz dan Hafidzah, semakin jaya pula Indonesia. Maka oleh itu, mari kita ambil contoh dari para Hafidz dan Hafidzah untuk memperbanyak Hafalan.

Setiap manusia pasti mempunyai masalah yang tidak harus di pendam di Hati karena akan membuat kita sendiri resah dan bisa menumbuhkan penyakit dalam diri kita. Carilah Teman sejati yang bisa di percaya dan curhatlah atau telfun Ibu kita sering-sering untuk mendengarkan nasihat beliau kembali seperti waktu kita masih dekat dengan Ibu kita dan jika ada pertanyaan bertanyalah pada teman-teman semua.

Insya Allah, Allah swt. akan mempertemukan kita kembali dengan orang tua kita, juga dengan sahabat dan teman-teman kita. Amin.

Muhammad Hilmy, mahasiswa HS Ulm

Sumber:

  1. Metode Edukasi Rasulullah SAW (Bagian 2)
  2. Keutamaan Membaca Al-Quran

SIMILAR ARTICLES