Menjama Shalat Maghrib dan Isya Saat Musim Sommer di Eropa

Menjama Shalat Maghrib dan Isya Saat Musim Sommer di Eropa

Pertanyaan

Sekarang ini di negara-negara Eropa mulai memasuki musim panas. Pada saat musim panas, siang hari menjadi lebih panjang, dan malam hari menjadi lebih pendek. Konsekuensinya, waktu masuk shalat maghrib, isya dan subuh menjadi berdekatan. Sebagai akibatnya, kami disini sering kebablasan waktu isya ataupun subuh karena tidur yang sangat pendek.

Untuk itu saya bertanya apakah ada dalil yang bisa memperbolehkan kita untuk melakukan jama maghrib dan isya untuk waktu puncak summer seperti yang saya maksudkan di atas?

Jawaban
Masalah fiqih yang di tanyakan tsb sudah dibahas oleh Majlis Fatwa Eropa di
Cologne, Jerman (22 Mei 1999). Fatwa Majlis itu sama dengan fatwa Syeikh
Yusuf Qardhawi.Bahwa pada musim panas, diperbolehkan untuk menjama taqdim antara shalat
magrib dan shalat isya. Atau menjama antara shalat dzuhur dan ashar baik
jama taqdim atau jama takhir, pada musim dingin.Kedua fatwa itu bersandar kepada hadits Nabi Saw.:

عن بن عَبَّاسٍ قال: (جَمَعَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بين الظُّهْرِ
وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، بِالْمَدِينَةِ، في غَيْرِ خَوْفٍ
ولا مَطَرٍ، في حديث وَكِيعٍ قال قلت لابن عَبَّاسٍ: لِمَ فَعَلَ ذلك؟ قال:
كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ. وفي حديث أبي مُعَاوِيَةَ قِيلَ لابن عَبَّاسٍ:
ما أَرَادَ إلى ذلك؟ قال: أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ) (صحيح مسلم
1/705)

Ibn Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw. menjama antara dzhur dan ashar,
magrib dan isya di Madinah. Tidak disebabkan karena khauf (takut/dalam
kondisi perang) tidak juga karena hujan”. Dalam riwayat Waqi: aku bertanya
kepada Ibn Abbas: mengapa Rasulullah melakukan itu? Beliau menjawab: supaya
tidak menyulitkan umatnya. Dalam riwayat Abu Muawiyah, ada seseorang yang
bertanya kepada Ibn Abbas: apa maksud Rasulullah Saw. melakukan itu? Beliau
menjawab: Nabi menginginkan supaya tidak menyulitkan umatnya (Shaheh
Muslim, vol. 1, no. 705).

Dalam hadits ini, Rasulullah Saw. seolah mengetahui akan ada kondisi sulit
seperti yang dialami oleh umat Islam di Eropa, untuk bisa menunaikan shalat
dzuhur dan ashar, atau magrib dan isya, sebagaimana lazimnya. Dalam kondisi
yang sulit ini, diperbolehkan untuk menjama shalat, sama dengan kebolehan
ketika melakukan safar (perjalanan).

Alasan mengapa Nabi Saw. menjama kedua shalat itu (dzuhur dan ashar, atau
magrib dan isya) jelas untuk menghilangkan kesulitan dalam menjalankan
kewajiban-kewajiban agama. Kaidahnya, kesulitan mendatangkan keringanan.
Hal itu seperti disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini:

مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ (المائدة: 6)
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu” (al-Maidah: 6)
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ (الحج: 78)
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”
(al-Hajj: 78).

Dengan demikian:

  1. Boleh menjama takdim shalat maghrib dan isya pada musim panas, atau
    dzhur dan ashar pada musim dingin, baik jama takdim atau takhir.
  2. Niatnya jelas niat jama’.
  3. Kapan waktu mulainya? Sejauh ini, belum ada komentar para ulama yang
    terlacak tentang bulan apa dan tanggal berapa baik musim panas atau musim
    dingin yang diperbolehkan menjama’ seperti disebutkan di atas. Intinya,
    kapan kesulitan dalam menunaikan shalat pada waktunya itu dirasakan betul
    (bukan kondisi malas).
  4. Tentu berlaku untuk pendidikan terhadap anak-anak. Bahkan Syeikh Yusuf
    Qardhawi membolehkan menjama’, jika mahasiswa dalam kondisi tertentu
    seperti karena perkuliahan, di laboratorium, atau dokter yang sedang dalam
    praktek, dan tidak memungkinkan meninggalkan pekerjaan itu. Karena Imam
    Ahmad dan Ibn Sirin pernah berfatwa, boleh menjama dua shalat, disebabkan
    karena kesulitan atau keperluan tertentu.
  5. Jika isya sudah dijama takdim (dengan maghrib), maka otomatis setelah
    selesai isya diperbolehkan untuk menunaikan shalat tarawih.

Wallahu a’lam..
Akhukum..
Abas Mansur Tamam