Sudah berkualitaskah puasa kita?

Sudah berkualitaskah puasa kita?

 

Sudah setengah perjalanan di bulan Ramadhan dan kita semua sudah bersiap menyambut malam lailatul qadr. Sudah sepatutnya kita banyak bersyukur masih diberi  kesempatan beribadah kembali di bulan Ramadhan tahun ini. Salah satu bentuk syukur adalah dengan meningkatkan kualitas, kekhusyukan dan kejujuran dalam beribadah. Betapa cepatnya Ramadhan berlalu, bagaimana puasa kita selama ini?

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلا الْجُوعُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلا السَّهَرُ

“Betapa banyak orang berpuasa namun balasan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga semata. Dan betapa banyak orang melakukan shalat malam (tarawih dan witir) namun balasannya dari shalatnya hanyalah begadang menahan kantuk semata.” (HR. Ahmad no. 8856, Abu Ya’la no. 6551, Ad-Darimi no. 2720, Ibnu Hibban no. 3481 dan Al-Hakim no. 1571. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: Sanadnya kuat)

Betapa meruginya jika puasa yang dijalankan adalah puasa yang tidak memberi pahala, hikmah, perbaikan diri dan manfaat kepada yang menjalankan juga orang sekitarnya selain hanya menahan lapar dan haus.

Idealnya, berpuasa selain menahan diri untuk tidak menyantap apapun, kita  juga mesti menahan diri dari melakukan atau mengatakan yang dapat menyakiti orang lain. Selama bulan Ramadhan kita melatih diri kita agar tidak mudah marah, sudah sepatutnya juga melatih  perbuatan dan perkataan yang dapat membuat orang lain naik darah. Berpuasa bukan sekedar menjaga makanan yang masuk ke dalam mulut, juga harusnya menjaga kata yang keluar dari mulut. Renungkan sejenak sebelum berbicara, berhati-hati dengan apa yang hendak dituturkan.

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلا يَرْفُثْ ، وَلا يَجْهَلْ ، فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ  (رواه البخاري، رقم 1894 ومسلم، رقم 1151)

“Barangsiapa salah satu di antara kalian di pagi hari dalam kondisi berpuasa, maka jangan berkata sia-sia dan jangan bersikap bodoh. Kalau ada seseorang yang menghardiknya atau menghinanya maka katakan kepadanya, sesungguhnya saya sedang puasa, sesungguhnya saya sedang puasa.” (HR. Bukhari, no. 1894 dan  Muslim, no. 1151)

Mata juga salah satu anggota badan yang ikut berpuasa. Menahan pandangan dari hal-hal yang tidak baik dan juga penting menjaga tatapan kita. Sering kali dulu mungkin secara tidak sadar tatapan mata kita sebelum berpuasa terkadang angkuh, menghakimi atau memandang orang lain lebih rendah.  Begitu juga dengan telinga, tangan, kaki dan anggota badan yang lainnya yang patutnya lebih diperhatikan dalam berpuasa. Tidak mendengarkan hal-hal yang sia-sia, diharamkan dan tidak pula melakukan perbuatan yang menyakiti orang lain dan diri sendiri. Semoga kita bukanlah termasuk golongan yang merugi pada bulan Ramadhan dan memperhatikan tidak hanya hal yang dapat membatalkan puasa tapi juga hal yang dapat menghilangkan  pahala.

Sumber :

1. It’s not permissible for one who is fasting to insult anyone

2. Menggapai tingkatan puasa paling tinggi dan sempurna

3. Agar puasa tak sekedar lapar dan haus

4. Tiga tingkatan puasa dan cara mendakinya

SIMILAR ARTICLES