WNI di Jerman Ikuti Daurah untuk Sambut Ramadhan

WNI di Jerman Ikuti Daurah untuk Sambut Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti umat muslim di seluruh dunia, terutama masyarakat Indonesia. Karena mayoritas orang Indonesia beragama Islam, Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu dari 11 bulan lainnya. Lalu bagaimana dengan Warga Negara Indonesia yang sedang berada di belahan bumi yang lain? Di Jerman misalnya?

Jerman adalah Negara yang mayoritas rakyatnya menganut keyakinan Katolik, Protestan, dan atheis. Jumlah muslim di negara ini hanya sekitar 5% dari total seluruh rakyat Jerman. Walaupun sudah terdapat mesjid di beberapa wilayah Jerman, di sini orang tak akan mendengar panggilan shalat seperti layaknya di Indonesia. Suara adzan dari mesjid tidak boleh sampai keluar dari lingkup mesjid tersebut. Lalu apa saja yang dilakukan saudara seiman dan se tanah air kita yang menjalani Ramadhan di sana?

Sabtu (30/5/2015), lebih dari 70 orang Indonesia memenuhi mesjid islamische Kulturcenter yang terletak di kota Halle (Saale), Sachsen-Anhalt dalam acara “Daurah Menjalani Ramadhan di Ranah Jerman”. Peserta yang hadir tidak semua berasal dari kota Halle (Saale), tapi mereka juga datang dari kota tetangga, seperti: Leipzig, Magdeburg, Nordhausen, Dresden, Zittau, Köthen, Jena, Erfurt, Ilmenau, dan Weimar. Bahkan ada salah satu peserta yang datang jauh-jauh dari Essen, kota yang berjarak sekitar 6 jam dari Halle bila ditempuh dengan Bus. Acara ini diadakan dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan dan silaturahim antar sesama orang Indonesia.

Terdapat 2 materi dalam acara ini. Materi Pertama dibawakan oleh Ustadz Andi Sastra, seorang alumnus program master Universitas Duisburg-Essen yang sekarang bekerja sebagai Development Engineer, di First Senior AG. Andi Sastra membawakan tema tentang Surga, Neraka dan perintah tentang berpuasa untuk orang beriman. Kisah tentang neraka yang di bawakan oleh Andi membuat sebagian peserta tak kuasa menahan air matanya. Mereka tertunduk dalam diam dan ke khusyukan yang mendalam.

Setelah materi pertama selesai dan beberapa menit coffee break, acara dilanjutkan dengan materi ke 2 tentang tips and tricks dalam menjalani puasa Ramadhan di Jerman yang dibawakan oleh Muhammad Ichwan, seorang Dosen Farmakologi FK USU dan PhD canditate TU Dresden. Muhammad Ichwan banyak menjelaskan manfaat puasa bagi kesehatan tubuh manusia. Tak lupa juga Ichwan memberikan beberapa saran agar tetap produktif saat berpuasa. Banyak peserta yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan materi yang dibawakan, mengingat puasa Ramadhan tahun ini akan berlangsung kurang lebih 18 jam.

Sekitar pukul 16.30 CET acara ditutup dengan hamdalah, istighfar dan doa penutup majelis. Para peserta pun bersiap pulang ke kotanya masing-masing. “Jauh dari Tanah Air dan waktu berpuasa yang panjang bukanlah alasan untuk meninggalkan apa yang memang sudah diperintahkan,” tegas salah satu peserta usai acara sore itu. (nayra/dakwatuna/hdn)